Tampilkan postingan dengan label oplosan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oplosan. Tampilkan semua postingan

javanova 2, lanjutannya, masih mahal tapi untung ada diskon

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 11.32

Pas jalan2 di Grand Indonesia, dengan tekad dan niat memburu diskon Gramedia yang sampai 30%, ternyata diketemukan sebuah cd javanova 2. Harganya masih terbilang mahal, Rp99.000. Untungnya kena diskon 30% plus 5% (dari debit BNI) = 35%. Lumayan.


Di episode, ini, James Chu berkolaborasi dengan Didi Kempot. Mantabbb. Jadi ada beberapa lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot.

Kesimpulan: Mantabbb...Hehehe. Tetap tidak ada kepandaian...

orisinalitas

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 11.04

Posting kali ini tidak membahas banyak. Aku hanya ingin mencatatkan sebuah komen menarik dari seorang teman waktu chatting kemarin.

Orisinalitas hanya ada pada Tuhan dan microsoft
Yak, aku hanya tertarik menuliskan itu dan amat sangat tidak tertarik sama sekali untuk mengulitinya ataupun mengupasnya ataupun membahasnya ataupun apapun... Maklum tidak ada kepandaian...

ps. thanks to qq atas quote itu hehehe

javanova, ngidam yang kesampaian, tapi muahallll

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 11.07


Yak, beberapa hari lalu sempat ngidam javanova. Awalnya jalan-jalan di mal di jakarta dan mampir di toko musik. Lha kebetulan terlihat tuh cd javanova. Karena sebelumnya sudah nge-fans sama Bosanova Jawa, ya langsung tertarik dengan cd ini. Lihat di cover-nya dan baca judul lagu-lagunya, jadi makin suka deh. Sayang, saat itu belum ada keinginan kuat untuk beli.
Berhubung makin lama makin pengen alias ngidam, akhir kata pergi juga ke Disc Tarra. Beli deh. Dan sambil nyengir-nyengir menahan sakit akibat MAHAL..hahahaha, akhirnya terbeli juga.
Langsung didengerin. Dan MANTABB.... Apalagi yang Ande-Ande Lumut.
hehehehe tetap saja mendengerinnya dengan tidak ada kepandaian...

puisi...

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 13.22

Aku ingin menanya, dalam dunia,
Cinta sebenarnya benda apa,
Yang membikin pemuda-pemudi, matipun rela,
Satu ke selatan, satu ke utara,
Dua-dua jauh mengembara,
Jauh mengembara, sudah berapa tahunkah?
Berkumpul menerbitkan kegirangan,
Berpisah menimbulkan penderitaan.
Karena itu, pemuda-pemudi jadi hilang ingatan.

Kau harus memberitahu,
Sesudah melalui awan putih berlaksa li dan ribuan gunung yang tertutup salju,
Siapakah yang dicari olehmu?

(Sin Tiauw Hiap Lu, Boe Beng Tjoe)

Alamilah

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 23.09

Kutip lagee... (Seinci Waktu Sekaki Permata, Agus S. Gunadi)

Thomas Aquinas: "Hanya ini yang dapat dikatakan dengan pasti, yaitu 'Kita tidak tahu siapa Dia'".

Konsili Lateran II: "Setiap gambaran kita tentang Tuhan lebih banyak tidak seperti Dia daripada seperti Dia."

Menjual Air Sungai

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 23.14

Kutip lagi ah... (dari burung berkicau, A.de Mello, SJ)

Khotbah sang Guru pada hari itu hanya terdiri dari satu kalimat penuh teka-teki.
Ia tersenyum lemah dan mulai berkata:

"Satu-satunya yang aku kerjakan di sini hanyalah duduk di pinggir sungai dan menjual air sungai"
Dan khotbahnya sudah selesai.

tidak ada kepandaian... tidak ada kepandaian...

Menjadi Kaya atau Menjadi Miskin

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 07.44

Syahdan, ada seorang Syekh yang hidup sederhana. Ia makan sekadar kebutuhannya yang dibutuhkan. Karena profesinya sebagai nelayan, pagi-pagi ia memancing ikan. Setelah mendapat banyak ikan, ia membela ikan-ikan itu menjadi dua: batang tubuh ikan-ikan itu dibagi-bagikan kepada tetangganya, sementara kepalanya ia kumpulkan untuk dimasak sendiri. Karena terbiasa makan kepala ikan, maka ia dijuluki Syekh Kepala Ikan. Ia seorang Sufi yang memiliki banyak murid. Salah seorang muridnya hendak pergi ke Mursia, sebuah daerah di Spanyol. Kebetulan Syekh Kepala Ikan ini mempunya seorang guru Sufi besar di sana. "Tolong kamu mampir ke kediaman guruku di Mursia, dan mintakan nasihat untukku," pesan Syekh kepada muridnya.

Si murid pun pergi untuk berdagang. Setibanya di Mursia, ia mencari-cari rumah si Syekh itu. Ia membayangkan akan bertemu dengan seorang tua, sederhana, dan miskin. Namun ternyata orang menunjukkannya ke sebuah rumah besar dan luas. Ia tidak pecaya, mana ada seorang Sufi besar tinggal di bangunan yang mewah dan mentereng, penuh dengan pelayan-pelayan, dan sajian-sajian buah-buahan yang lezat. Ia terheran-heran: "Guru saya hidup dengan sangat sederhana, sementara orang ini sangat mewah. Bagaimana ia bisa menjadi gurunya guru saya?"

Ia pun masuk dan menyatakan maksud kedatangannya. Ia menyampaikan salam gurunya dan memintakan nasihat untukknya. Syekh pun bertutur, "Bilang sama dia, jangan terlalu memikirkan dunia." Si murid tambah bingung dan sedikit kesal karena tidak bisa mengerti. Syekh ini hidup demikian kaya raya dan ketika diminta nasihat oleh orang yang hidupnya sederhana, malah menyuruh jangan memikirkan dunia?

Saat gurunya mendengar nasihat yang diperoleh muridnya, ia hanya tersenyum dan sedikit sedih. Semakin ia tidak paham. Apa maksud nasihat ini? Gurunya menjawab, "Syekh Akbar itu benar. Menjalani tasawuf itu bukan berarti harus hidup miskin. Yang penting hati kita tidak terikat oleh kekayaan yang kita miliki dan tetap terpaut dengan Allah SWT. Bisa jadi seseorang miskin harta terus, tetapi hatinya memikirkan dunia. Saya sendiri, ketika makan kepala ikan, masih sering membayangkan betapa enaknya makan dagingnya!"
(Kearifan Timur dalam Etos Kerja dan Seni Memimpin, Jusuf Sutanto, Penerbit Buku Kompas, 2007, hal.167-168)

Egoisme Spiritual

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 07.33

Maaf, judul dan ceritanya diambil dari sebuah buku baru: Kearifan Timur dalam Etos Kerja dan Seni Memimpin, Jusuf Sutanto, Penerbit Buku Kompas, 2007, hal.170-171.

Ada dua orang sufi besar yaitu Ibrahim bin Adham dan muridnya Syaqiq al Balki. Konon, Ibrahim dulunya seorang pangeran dan setelah mendapatkan pencerahan maka ia menjadi sufi. Syaqiq al Balki dulunya seorang pengusaha yang dalam kesufiannya masih sering gelisah mengenai darimana mendapatkan rejeki.

Suatu saat keduanya berjalan-jalan di pinggir hutan dan mereka melihat seekor burung menggelepar di tanah karena sayapnya patah. Tapi tiba-tiba membesut seekor burung lain dengan membawa makanan dan melolohkan ke paruh burung yang patah sayapnya.

Melihat kejadian itu, Syaqiq al Balki merenung, "Astaghfirullah, kalau burung saja dijamin rejekinya oleh Allah, apalagi saya." Ini salah satu bentuk tawakal kepada Allah. Tapi Ibrahim bin Adham, gurunya, malah menegur dia: "Aneh kamu ini, kenapa kamu hanya melihat burung yang patah sayapnya dan tidak berdaya. Mestinya kamu belajar dari burung yang sehat itu, yang dengan kesehatannya itu ia mampu mencari nafkah tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga membantu burung lain yang patah dan membutuhkan bantuannya."

First

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 00.42

It's a first time.

Tidak Ada Kepandaian. Diangkat dari julukan seorang tokoh di cerita silat Kho Ping Ho, Bu Pun Su. Lu Kwan Cu, tokoh dalam cerita ini, memilih Bu Pun Su sebagai julukannya.

Tidak Ada Kepandaian. Bu Pun Su.

"Kalau si lemah Lu Kwan Cu yang sudah mampus memang dia itu lemah hati, mudah dikuasai oleh nafsu, dia buta dan tuli, terlalu mengandalkan kepandaiannya yang tidak berarti, terlalu membanggakan tenaganya yang sebetulnya lemah. Ha, ha, Lu Kwan Cu sudah mampus demikian pula orang-orang yang seperti dia. Akan selalu mengalami suka duka dan hidup bagaikan benda mati yang dipermainkan oleh alam. Akan tetapi aku sekarang bukan seperti dia, aku sudah menguburkan Lu Kwan Cu. Aku Bu Pun Su hidup bukan sebagai bujang perasaan, aku hidup bebas, mempergunakan akal budi dan pertimbangan, mengeluarkan segala yang pernah kupelajari untuk membantu pekerjaan alam!"

Tidak Ada Kepandaian. Berkepandaian tetaplah Tidak Ada Kepandaian.