Tampilkan postingan dengan label ngelantur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngelantur. Tampilkan semua postingan

Everyone is No. 1

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 09.36

Andy Lau (Liú Dé Huá) 刘德华 - Everyone is No. 1 (Beijing 2008 Olympic Games Theme Song)

setiap kali kudengar suara tepuk tangan bergemuruh
ku tahu ku telah maju selangkah lagi
namun ku pernah tak dapat berdiri pula

jalanku bukanlah jalanmu
dukaku bukanlah dukamu
setiap orang mempunyai kemampuan terpendam
taklukkanlah semuanya

air mataku bukanlah air matamu
kepedihanku bukanlah kepedihanmu
langit yang sama, kehormatan yang berbeda
ada perasaan tersentuh yang sama

tak perlu terlalu menyalahkan diri sendiri
hanya perlu ketenangan, hanya perlu maju ke depan
katakan kepada diri: bakat bawaanku harus berguna

everyone is no. 1
asalkan hal apapun kau tak bertanya mampukah
gunakanlah satu tarikan nafas untuk menukar hidupmu
sambutlah masa depan tak perlu menunggu

everyone is no. 1
rahasia keberhasilan ada pada tekadmu
alirkanlah keringat terpanas, gunakanlah hati tersungguh-sungguh
juara satu adalah milik semua orang

kemunduran, benarkah merupakan bagian dari kehidupan manusia?
terjatuh, benarkah merupakan jalan yang harus dilalui untuk menuju kedewasaan?
dahulu, aku dan mereka sama
sekarang, aku dan kau sama

kecelakaan, adalah
di saat tak terpikirkan oleh orang-orang dan kau sendiri barulah dapat terjadi
maka, janganlah menyalahkan orang lain
janganlah lebih menyalahkan diri sendiri

tanganku bukanlah tanganmu
mulutku bukanlah mulutmu
hanya perlu sehati
maka badai dan hujan lebat
akan menjadi teman baik

tak takut jalan sedingin apa
hingga masih ada sedikit kehangatan tertinggal
ku tetap dapat giat berlari!

dahulu aku dan mereka sama
sekarang kau ingin sama dengan aku

membantu

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 15.05

Hari ini makan pagi seperti biasa. Di tempat biasa juga. Dan dengan kejadian yang biasa juga, mungkin.


Di tengah-tengah menikmati nasi pecel, datang serombongan anak muda seusia lulusan SMA atau mungkin mahasiswa tingkat-tingkat awal. Dua cowok dan dua cewek dateng ke warung sebelah. Datang dan menyapa pemilik warung sebelah. Terasa akrab dengan pemilik warung.
Nah, saat yang hampir bersamaan, pemilik warung sebelahnya lagi langsung melongok ke warung yang didatangi 4 anak muda tadi. Berhubung seperti sebuah insiden, aku jadi ikutan melongok. Kebetulan posisi dudukku menghadap ke warung tersebut.

Ternyata, mereka berempat langsung duduk dan membantu seorang anak muda (mungkin anak pemilik warung atau karyawannya) yang sedang mempersiapkan sayur dan bumbu-bumbunya. Sementara tiga orang temannya sibuk memotong-motong sayuran, cabe, dsb, salah satu cowok mengeluarkan handycam. Nah, ketauan kan motifnya...hehehe...

Awalnya aku mengira keempat anak muda itu, masih saudara, tetangga, atau teman anak dari pemilik warung. Wajar jika mereka terlihat akrab dengan pemilik warung. Ternyata eh ternyata, berdasarkan pengamatan empat mata dan analisis asal-asalan, timbul hipotesis bahwa mereka sekumpulan anak muda (entah anak sekolah atau mahasiswa) yang mendapat tugas (dari kakak kelas atau dari guru atau dosen atau siapapun) untuk meliput atau mengamati kegiatan masyarkat marjinal (maaf, hanya istilah aja kok). Motifnya, kemudian adalah dengan membantu mereka.

Setelah diamati lebih lanjut, kebetulan saat mau membayar nasi pecel plus 2 mendoan, ternyata ibu pemilik warung sedang menyiapkan minuman (mungkin teh) buat mereka berempat. Nah lho. Jadi deh timbul pikiran-pikiran usil.
Pikiran usil tentang kegiatan membantu. Sebenarnya teringat juga waktu tugas mata kuliah Agama saat kuliah dulu yang kurang lebih sama dengan yang mereka lakukan itu. Nah, pertanyaan yang terlintas adalah dalam bentuk apakah yang pantas untuk membantu seseorang yang lain.

Pertanyaan ini muncul karena menyaksikan (dan ditambahkan dengan asumsi-asumsi yang tidak jelas hehehe) adegan demi adegan di warung sebelah walau secara singkat. Asumsi yang muncul adalah sepertinya pemilik warung menanggapi bantuan kecil tersebut angin lalu, merasa tidak terbantu, dan bahkan justru sebaliknya merasa membantu keempat anak muda itu untuk menyelesaikan tugasnya. Nah lho. Jadi siapa membantu siapa???? Ups, kembali ini berdasarkan asumsi dan opini dari pengataman empat mata lho. Dalam hati orang siapa yang tahu?

Jadi kembali ke pertanyaan semula. Bentuk bantuan apa ya yang pantas untuk seseorang. Nah, tadi sempat terpikir. Bahwa setiap orang punya nature-nya masing-masing. Setiap orang punya panggilan masing-masing. Anak-anak punya nature untuk bermain. Lebih dewasa lagi dia terpanggil untuk belajar. Setelah dewasa akan memiliki nature untuk berkarya apapun bentuk karyanya. Nah, disinilah bentuk bantuan disesuaikan dengan nature-nya masing-masing. Lebih detail lagi harus jeli dan peka menangkap kebutuhan mereka yang dibantu.
Begitu deh, justru inilah yang sulit...karena akupun tidak peka dan tidak punya kepandaian...

Master Tarno, The Master of Traditional Magic

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 15.18

Beberapa waktu lalu, The Master menampilkan dan menganugerahkan gelar Master kepada seorang Magician yang bukan jebolan ajang The Master. Sosoknya yang sederhana dengan sulap yang sederhana pula dan dengan keluguannya telah menarik sambutan dari para penonton saat itu. Namun kali ini, saya tidak akan membahas sosok ini. Tapi akan mengutip komentar Bapak yang satu ini yang dikutip dari sebuah tabloid.

Kalau hati kita sudah tercurah kepada apa yang akan kita lakukan, secara otomatis kita akan menyenangi kegiatan kita. Kalau kita senang dengan kegiatan kita, hasilnya akan maksimal
Kata-kata yang bagus...maklum aku tidak ada kepandaian...

Pho Ang-Soat

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 11.34

Beberapa hari ini, status messenger-ku selalu pakai "Yap Kay vs Pho Ang-Soat". Mengapa pakai status ini? Jawabannya karena lagi 'kesengsem' dengan cerita dua jagoan cersil ini.

Mereka pertama kali dipertemukan di cerita "Peristiwa Merah Salju". Kemudian mereka terpisah di cerita yang tokohnya adalah masing-masing dari mereka: "Rahasia Mo-Kau Kaucu" kisah si Yap Kay dan "Peristiwa Bulu Merak" kisah si Pho Ang-Soat. Akhirnya mereka dipersatukan kembali dalam "Kilas Balik Merah Salju".

Tapi kali ini aku tidak ingin bercerita tentang cerita-cerita itu. Silakan baca sendiri. Hehehehe.
Salah satu yang menarik dari kisah saga ini (cerita-cerita itu merupakan bagian dari saga Pisau Terbang), adalah tokoh Pho Ang-Soat. Mungkin tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan semenariknya tokoh Wei Siau Po di "Pangeran Menjangan"-nya Chin Yung. Pho Ang-Soat menurutku masih disebut 'hero' (banyak orang menyebut Wei Siau Po itu antihero). Justru yang menariknya adalah karakter si Pho Ang-Soat ini.

Pertama, Pho Ang-Soat meski jago bermain golok dan sudah dalam taraf hampir tiada tandingannya, oleh Khu Lung dia digambarkan penyakitan. Mungkin masih mengikuti pakem penggambaran tokoh Li Sun-Hoan si Pisau Terbang yang juga guru dari Yap Kay yang digambarkan berpenyakitan (kabar-kabarnya si Siau-Li ini justru mengidap penyakit TBC meski dalam urutan senjata, akhirnya pisau terbangnya dinyatakan dalam urutan pertama), Pho Ang-Soat juga digambarkan berpenyakitan. Pho Ang-Soat sejak lahir mengidap polio. Sehingga kakinya pincang dan cara jalannya lucu (ini murni penggambaran di cersilnya, bukan bermaksud untuk mendiskreditkan mereka yang juga mengidap polio). Meski juga digambarkan memiliki kecepatan yang luar biasa dalam mengejar orang, Pho Ang-Soat juga lebih sering digambarkan berjalan lambat dengan cara jalannya yang khas itu. Itulah kehebatan Khu Lung, seorang yang sudah polio masih ditambahkan mempunyai penyakit ayan yang kadang-kadang sering kambuh apalagi saat mengalami tekanan emosi yang berlebih.

Kedua, yang lebih menyayatkan. Pho Ang-Soat mengalami masalah psikologis. Yak, Khu Lung memang gemar mengupas sisi psikologis tokoh-tokohnya. Termasuk Pho Ang-Soat ini. Pada awalnya, dia yang baru saja turun gunung, harus membawa beban berat untuk membalas dendam atas kematian ayahnya. Tekanan psikologis timbul karena sejak kecil dia dididik untuk membalas dendam dengan segala latihan-latihan ilmu silatnya. Yang lebih menohok, di akhir cerita ketika semuanya terbuka..ups spoiler. Akhir cerita ini lah yang membuat beban psikologisnya makin parah. Di cerita "Peristiwa Bulu Merak", beban psikologis ini sudah hampir terkikis dan menurutku sudah hilang di akhir cerita "Kilas Balik Merah Salju"
Ya..begitulah cerita si Pho Ang-Soat. Tokoh yang menarik saat ini bagiku. Begitulah yang tanpa kepandaian....

belenggu dan kukusan

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 03.26

"... setiap orang kebanyakan mempunyai keranjang kukusan sendiri, juga mempunyai belenggu sendiri, "...
"Hanya sedikit sekali orang yang mampu melepaskan belenggu sendiri"
...
"... cara bagaimana dapat kau lepaskan belenggumu itu?"
...
"Ah, aku sudah dapat menembus jalan pikiran ini."
...
"Seseorang bila sudah dapat menembus pikirannya yang tersesat, imbalan yang sudah dikeluarkannya pasti tidak sedikit..."

dari Si Pisau Terbang, Gan KL

tidak bergeming

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 07.34

..."Bergeming pun tidak, darimana kau bisa menilai bahwa dia seorang kosen?"
"Justru karena dia tidak bergeming, maka dia adalah orang kosen yang tiada bandingan di dunia ini."
"Apakah tidak bergerak lebih sukar dari bergerak?"
"Jauh lebih sukar."
"Aku tidak mengerti."...

..."Dia tidak bergerak, apakah kau tidak punya peluang untuk menyerangnya?"
"Tidak bergerak berarti bergerak, titik terakhir dari segala perubahan gerak itu adalah tidak bergerak."
"Terlalu banyak lubang kelemahan, akhirnya berubah tiada lubang kelemahan, karena bila sekujur badan seperti sudah kosong hampa tanpa isi, maka kau takkan tahu darimana kau harus turun tangan."...

dikutip dari Peristiwa Bulu Merak, Gan KH

Kegagalan adalah sukses yang tertunda

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 09.17

Kemarin, seorang teman berkomentar lewat chat, "kegagalan adalah sukses yang tertunda". Jadinya langsung teringat dengan postingan sebelumnya (refer: Kegagalan adalah enjoy yang tertunda). Langsung saja, aku balas dengan "sukses adalah kegagalan yang tertunda". Kalau bingung, lihat kembali aja postingan sebelumnya.

Intinya, kalau x = y, maka y = x kan? Jadi pada dasarnya, kita tak pernah tau apakah yang akan terjadi ke depan. Apakah setelah kegagalan bakal muncul kesuksesan? Apakah setelah kesuksesan bakal muncul kegagalan?

Yah...tetap tidak ada kepandaian....

progress paradox dan negativisme criticism

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 11.01

Tadi pagi dengar radio yang kebetulan dengan narasumber Rhenald Kasali. Topik pembahasan sebenarnya lebih cenderung mengenai krisis yang sedang kita hadapi termasuk bagaimana kita melihat dan mengantisipasinya..halah...

Tapi yang menarik justru adalah dalam percakapan tersebut, Rhenald sempat menyinggung masalah progress paradox. Progress paradox kurang lebih berarti bahwa progress atau kemajuan pada dasarnya ada dan terjadi namun tidak pernah terasakan bahwa progress itu ada dan terjadi. Mmm.. menarik. Mungkin seperti sekarang ini. Pemerintah sering meng-klaim ada beberapa kemajuan. Sepertinya masyarakat merasa tidak mengalaminya. Entah ini klaim pemerintah menggunakan dasar yang beda atau bagaiamana, tidak tahulah.... hehehe.

Berikutnya adalah mengenai kritis. Hal ini dipertentangkan dengan optimisme. Kalau yang disampaikan itu yang positif untuk menuju optimis itu jadi tidak menarik alias tidak kritis. Jadi biar kritis harus menyampaikan yang negatif-negatif. Hahahaha....

Ya itulah laporan hari ini..., Maaf kalau salah kutip. Harap maklum.. tidak ada kepandaian.

Harga BBM dan Tarif Angkutan Umum

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 17.15

Semua pasti sudah tahu bahwa pemerintah sudah menurunkan harga BBM 3x, @Rp500. Efeknya jelas, langsung jadi iklan PD.

Masalahnya, logikanya, jika harga bbm turun maka yang paling cepat turun harusnya tarif angkutan umum. Lha kok lama ya turunnya? Kok ga otomatis turun ya, mesti pakai SK dsb. Kalo pas naik, lha kok cepet ikutan naik. Malah demo-demo segala yang notabene, konsumen alias penumpang yang rugi, harus jalan atau naik ojek. Seharusnya kalau tarif ga turun-turun konsumen yang gantian demo organda... hehehehe

Lha mengenai hal ini, bapakku malah komentar: mending harga bbm ga usah diturunin aja sekalian. Biar nambah pendapatan negara. Hahaha yang ini aku setuju banget. Daripada tarif angkutan umum plus harga barang-barang yang ga mau turun-turun, mending harga bbm ga usah diturunin sekalian. Lumayan buat nambah pendapatan negara!!

Tapi pasti ide ini bakal tidak disetujui. Dengan mudah dapat ditebak para anggota legislatif pasti berlomba-lomba minta diturunkan harga bbm itu. Alasannya pro rakyat... Hahaha padahal meneketehe... Kalau saya jadi presiden, pasti juga bakal mengambil keputusan seperti Bapak Presiden. Meski tahu bahwa harga-harga tidak otomatis turun mengikuti harga turunnya harga bbm, daripada dijegal-jegal terus sama anggota legislatif mending harga bbm diturunin, lumayan dapat jadi iklan gratis kampanye...hahahaha

Ya apapun itu, ini juga analisis ga jelas... maklum tidak ada kepandaian

paradoks antrian: 2 jam di tugu - sabarnya orang jogja

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 09.30

Dulu waktu kuliah pernah belajar mengenai teori antrian. Kalau tidak salah untuk mengatasi masalah antrian paling tidak ada 2 cara: menambah server atau memperluas ruang tunggu antrian.

Beberapa hari yang lalu (dan beberapa minggu yang lalu) kita sekeluarga terpaksa antri 2 jam di stasiun tugu jogjakarta hanya untuk beli tiket kereta api ke jakarta. Antri di depan kita ada sekitar 200-an orang (berdasarkan nomor urut antrian kita). Menurutku, dengan antrian sepanjang itu harusnya sudah dipikirkan solusinya dong.

Kalau kita lihat kondisi di stasiun: sudah tersedia 6 loket dan ruang tunggu yang luas (aku ga tau persisnya berapa) meski dengan tempat duduk terbatas. Yang bikin kesal adalah dari 6 loket tersedia kok cuman diisi oleh 2 server saja???

Aneh.. Lha sudah tau antrinya segitu panjangnya kok ga dibuka 4 loket lainnya.

Analisis ngawurku:
Dari yang terjadi disana, ini aku coba untuk menganalisis ngawur apa yang dipikirkan atau yang terjadi disana.

1. Penghematan. Dengan hanya mempekerjakan 2 server, kan jadi irit. Tentunya dengan menaikkan gaji ke-2 orang server itu. Misal gaji 1 server = Rp x. Dengan menaikkan gaji 2 server itu jadi Rp 2x/orang = Rp 4x, maka tetap hemat to cuman nambah Rp 2x. Daripada harus menambah Rp 4x untuk 4 orang lagi. Tidak peduli customer mo antri seperti apa. Wong orang ngayojakarta hadiningrat itu kan orangnya sabar2. Ngantri 2 jam ora apa apa.

2. Rusak. Mungkin aja perangkat yang 4 loket itu pada rusak. Yang bisa jalan ya cuman 2 itu. Mereka nggak ngerti cara betulinnya. Makanya yo wis pakai 2 saja. Wong orang ngayojakarta hadiningrat itu kan orangnya sabar2. Ngantri 2 jam ora apa apa.

Kesimpulan ngawur: Kita harus tahu karakter customer kita. Jadi kita bisa memanfaatkan kondisi customer untuk memaksimal keuntungan ekonomis kita....

Amdjian Siohoen koen [Im-jian-soh-hun-kun]

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 22.48

Inilah nama jurus dalam ilmu silat Amdjian Siohoen koen [Im-jian-soh-hun-kun] = ilmu silat perpisahan [ilmu pukulan pengikat sukma]:

  1. Simkhia djioktiauw [Sim-keng-bak-tiau] = hati takut daging melonjak [hati kaget daging kedutan]
  2. Kiedjin yoethian [Ki-jin-yu-thian]= kesedihan yang melampaui batas [si tolol menguatirkan runtuhnya langit]
  3. Boetiong sengyoe [Bu-tiong-seng-yu]= dalam kekosongan terdapat isi [tidak ada tapi mengada-ada]
  4. Tohnie taysoei [Do-ni-tay-sui] = menyeret lumpur membawa air [basah kuyup dan berlumpur]
  5. Bobeng kiemiauw [Bok-beng-ki-miau] = tak tahu apa kebagusannya [bingung tidak paham]
  6. Djiakyoe sosit [Yak-yu-soh-sit] = seperti juga kehilangan sesuatu [seperti kehilangan sesuatu]
  7. Toheng geksie [To-heng-gik-si] = jalan jungkir balik [tindak terbalik dan berbuat berlawanan]
  8. Keksie sioyang [Keh-hoa-soh-yang] = di balik sepatu menggaruk rasa gatal [menggaruk gatal dari balik sepatu]
  9. Latpoet tjiongsin [Li-put-ciong-sim] = kemauan besar tenaga kurang [keinginan besar tenaga kurang]
  10. Hengsie tjauwdjiok [Heng-si-cau-bak] = mayat berjalan [mayat berjalan bangkai bergerak]
  11. Yongdjin tjoeyoe = si goblok kejengkelan sendiri
  12. Boenpoet toeitee = karangan tak cocok dengan kalimat
  13. Lioksin poet-an = pikiran tak tentram
  14. Kiongtouw bweelouw = menemui jalan buntu
  15. Binboe djinsek [Bin-bu-jin-sik] = di muka tak ada cahaya manusia [muka pucat tanpa perasaan]
  16. Huaphia tjiongkie = menggambar kue, menghilangkan lapar
  17. Siongdjip hoeihoei = pikiran melantur
Daftar tersebut diambil dari Sin Tiauw Hiap Lu (Boe Beng Tjoe) untuk nama-nama dan arti tidak di dalam tanda kurung siku dan Pendekar Rajawali Sakti (Gan KL) untuk nama-nama dan arti dalam tanda kurung siku ([...]).

Pahlawan dan Nilai Uang

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 01.46

Sudah lazim kalau dalam lembaran uang kertas yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia bergambar pahlawan nasional di satu sisi dan gambar pemandangan atau rumah dsb di sisi yang lain. Adakah pernah sekali-sekali kita memperhatikan dan menghafal gambar pahlawan apa yang ada di lembar uang kertas tertentu? Ingatkah kita dengan guyonan uang Pak Harto mesem?

Tentu kita tahu bahwa satu lembar uang kertas terdapat satu gambar pahlawan. Dan seingatku, belum pernah dalam satu periode yang sama ada dua lembar uang kertas dengan nominal berbeda menggunakan gambar pahlawan yang sama. Pernahkah muncul pertanyaan adakah hubungan antara nominal uang kertas dengan pahlawan? Adakah konsiderasi dari Bank Indonesia dalam menentukan gambar di dalam lembaran uang kertas? Mengapa pahlawan Pattimura digambar di lembaran uang seribuan? Mengapa I Gusti Ngurah Rai digambar di lembaran 50ribu? Mengapa tidak yang lain? Apakah karena I Gusti Ngurah Rai digambar di 50ribu dan Pattimura di uang 1000 lantas I Gusti Ngurah Rai lebih hebat dari Pattimura?
Ingat kalo uang Rp 500 kertas bergambar monyet? Bukankah akan muncul pertanyaan, apakah Pattimura hanya senilai dua kali kera? (Untungnya sekarang sudah cukup susah cari pecahan 500 kertas, setidaknya pas nulis ini tidak aku ketemukan di kantong dan dompetku....)
Pasti tidak. Tapi tetap saja tidak tahu alasan pemilihan gambar di pecahan uang kertas....
Tetap...tidak ada kepandaian....

Kegagalan adalah enjoy yang tertunda

Posted by Bu Pun Su | Posted in | Posted on 01.32

Pernah lihat iklan LA Lights yang tagline-nya "Kegagalan adalah enjoy yang tertunda"? Dalam iklan tersebut kata sukses dicoret dan diganti dengan enjoy. Sebuah tagline yang sangat menarik. Bukan sekedar bahwa waktu masih SD, aku selalu memakai motto "Kegagalan adalah sukses yang tertunda". Waktu itu, motto itu benar-benar powerfull untuk menyemangati diriku ini jika mengalami kegagalan-kegagalan dan membangkitkan semangat lagi.

Sekarang, kita akan membahas dan mengomentari tagline tersebut.

Pertama, dengan sudut pandang yang sedikit berbeda, "Kegagalan adalah sukses yang tertunda" adalah wujud dari sebuah harapan yang 'dipaksakan' muncul untuk mengatasi kegalauan atas sebuah kegagalan yang diterima. Atau dari sisi yang sedikit lebih berbeda, tagline tersebut dapat diartikan sebagai sebuah 'pembenaran' semata. Ketika sebuah kegagalan datang, seseorang akan cenderung ('insting' mungkin) untuk mencari kesalahan-kesalahan di luar kesalahan dirinya sendiri. Bisa menyalahkan orang lain, menyalahkan situasi, menyalahkan kondisi, menyalahkan alam, bahkan menyalahkan nasib dan takdir. Ketika sudah terjebak pada situasi menyalahkan dan tidak menemukan kesalahan, seseorang akan berusaha untuk membesarkan hati yang sebenarnya adalah semacam 'pembenaran' semata untuk membuat hati menjadi lega atas kondisi dari sebuah kegagalan.

Kedua, coba rumusan tagline tersebut dilihat dari sudut pandang yang lain lagi yang sedikit mengarah ke logika. Logikanya, jika sebuah "kegagalan adalah sukses yang tertunda". Bukankah memungkinkan pula logika bahwa "sukses adalah kegagalan yang tertunda"? Kondisi kedua ini yang sekiranya jarang orang perhatikan karena kembali pada pembahasan pertama. Kembali ke bahasan pertama, tagline "kegagalan adalah sukses yang tertunda" lebih digunakan untuk 'pembenaran' diri dan mengingkari adanya kenyataan yang lain yaitu 'sukses adalah kegagalan yang tertunda'.

Mengenai bahasan kedua, ada sebuah cerita yang seringkali menjadi selipan dalam wejangan atau kotbah. Cerita ini mudah didapatkan dari beragam buku yang berisi tentang anekdot yang bermuatan petuah atau permenungan. Ceritanya seperti berikut:

Katakanlah di suatu saat, tinggalah seorang petani dan anaknya yang berusia remaja. Petani tersebut memiliki seekor kuda. Kuda betina itu selama ini sangat membantu banyak pekerjaan petani terutama dalam mengangkut hasil taninya.

Suatu saat, kuda tersebut lari dari kandangnya dan lari ke hutan yang tidak jauh dari pemukiman penduduk. Tetangga petani itu yang mengetahui berita tersebut berusaha menghibur petani. Tetapi petani tersebut, dengan tenang menjawab, "Apakah ini sebuah kemalangan?"

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba muncul dari hutan, kuda petani yang hilang itu dan menuju ke rumah pak petani itu. Yang mengagetkan adalah di samping kuda itu berjalan beriringan sebuah kuda jantan liar yang gagah, kuat, dan bagus. Kuda liar itu sepertinya mampu melakukan kerja apapun dengan kekuatannya. Melihat hal itu, tetangga sekitar menyalami pak petani dan memberi selamat. Sekali lagi, pak petani hanya menjawab, "Apakah ini sebuah keberuntungan?"

Karena kuda liar tersebut begitu gagah, anak petani tergoda juga untuk menungganginya. Awalnya, kuda liar tersebut dapat ditaklukkan. Anak petani itu dengan bangganya berkeliling menunggangi kuda liar tersebut. Tiba-tiba kuda itu marah dan melempar jatuh anak petani. Akibatnya, anak petani mengalami cacat di kakinya. Dengan maksud ikut berbela sungkawa atas kejadian itu, para tetangga mengunjungi rumah petani itu. Kembali, pak petani hanya menjawab, "Apakah ini sebuah kemalangan?"

Sebulan kemudian, datanglah ke desa itu, sekelompok prajurit kerajaan. Komandan pasukan itu kemudian memberikan pengumuman kepada penduduk desa. Isinya bahwa kerajaan sekarang dalam kondisi perang. Oleh karenanya, semua warga yang sehat jasmani dan masih kuat diwajibkan untuk mengikuti wajib militer dan akan dikirim perang. Pak petani sudah berumur lanjut sehingga tidak memungkinkan untuk dikirim ke medan perang. Karena cacat akibat jatuh dari kuda, anak petani juga tidak terkena wajib militer. Pak petani kembali mengucapkan, "Apakah ini sebuah keberuntungan?"